Cerita ini adalah lanjutan dari Kisah Istana Birahi bagian I sebelumnya.
AKU masih ingat benar, semuanya dimulai sejak aku masih kecil, baru kelas 2 SMP. Memang aku malu pada diriku sendiri, karena sejak kelas 6 SD aku sering mengkhayalkan tubuh perempuan. Katakanlah aku matang sebelum waktunya. Tapi aku ini anak tunggal, hidup bersama ibu tiri pula. Sehingga sosok perempuan jadi sesuatu yang misterius bagiku. Maklum, sejak kecil sekali aku bernasib seperti ini. Dibesarkan oleh seorang ibu tiri. Memang ibu tiriku baik hati. Tak pernah memukulku, bahkan menyentil telinga pun tidak pernah. Tapi biar bagaimana pun aku tetap kehilangan kasih sayang seorang ibu. Karena sebaik-baiknya seorang ibu tiri, tetap tidak sama dengan ibu kandung. Misalnya saja, aku sering iri melihat temanku dipeluk dan dipangku-pangku oleh ibunya, sementara aku tidak pernah menerima perlakuan seperti itu dari ibu kandungku.
Sejak usia 5 tahun aku tidur sendirian, bukan dalam pelukan ibu kandung seperti teman-temanku. Tapi aku tak pernah memprotes keadaan ini. Yah, namanya juga anak kecil, diharuskan seperti ini oleh ayahku, ya patuh-patuh saja. » Read more: Kisah Istana Birahi 2