Kisah Istana Birahi

February 7th, 2010 by Hot Plot Leave a reply »

Kisah Istana Birahi Part 1

Aku masih menyimpan file dari sahabatku itu. Ia ingin agar aku mengeditnya, supaya bahasanya lebih tertib. Lalu…inilah hasilnya, sebuah pengakuan yang cukup panjang dari seorang sahabat bernama Toni:
————————–
SELAMA 2 tahun aku menikmati segala kenikmatan sex dengan Mbak Ning. Sejauh itu aku dan Mbak Ning bisa merahasiakannya. Papa dan ibu tiriku tidak tahu bahwa diam-diam Mbak Ning suka menyelinap ke dalam kamarku, setelah janjian dulu siangnya secara rahasia.
Tetapi semuanya harus berakhir setelah Mbak Ning pamitan untuk pulang ke kampungnya, karena mau menikah dengan pria sekampungnya. Sebelum dia pulang, masih sempat ia memberikan sepucuk surat padaku yang isinya,

Den Toni yang baik,
Maafkan saya ya, karena saya diam-diam merahasiakan bahwa selama ini saya sering gelisah sendiri. Saya sering takut kalau hubungan kita diketahui oleh Bapak dan Ibu. Selain daripada itu, saya juga takut hamil, Den. Karena itu lamaran laki-laki di kampung saya terpaksa saya terima. Karena kita tidak mungkin terus-terusan begini.

Terimakasih buat semua yang sudah saya dapatkan. Saya akan tetap mengenang Den Toni dan segala kisah yang pernah terjadi di antara kita. Saya doakan Den Toni tetap jadi anak pandai di sekolah. Doakan juga saya agar bisa berbakti kepada suami saya nanti. Setelah dibaca, bakar saja surat ini ya Den. Nanti ketahuan Bapak atau Ibu, pasti Den Toni dimarahi.
Hormat saya,
Nining

Batinku terpukul sekali setelah membaca surat itu. Mbak Ning hanya seorang pembantu, yang dengan setia mengabdi di rumahku selama 3 tahun. Tapi ia telah meninggalkan kesan khusus di hatiku. Lebih dari sekadar tempat pelampiasan nafsuku. Karena aku rasakan sendiri, setelah aku memiliki hubungan rahasia dengannya, aku diperlakukan semakin baik olehnya.
Waktu ia meninggalkanku, aku sudah duduk di kelas 1 SMA. Aku merasa sedih sekali dengan kepergiannya. Tapi aku tak pernah curhat kepada siapa pun. Karena aku tak ingin membuka rahasiaku sendiri.
Walaupun cuma seorang pembantu, Mbak Ning meninggalkan kesan yang mendalam di hatiku. Dari dialah aku jadi tahu apa yang sering disebut “surga dunia”. Bahkan aku sangsi apakah kepuasan dan kenikmatan yang sering kudapatkan darinya bisa kudapatkan dari wanita lain.
Entahlah. Yang jelas, sejak Mbak Ning gak ada, aku jadi pemurung, baik di rumah maupun di sekolah. Teman-teman seangkatanku mulai nyari pacar masing-masing. Tapi aku tak punya gairah untuk mencari pacar. Lalu pura-pura serius ke pelajaran. Tak mau peduli soal cewek.
Padahal aku seperti kehilangan gairah dengan teman-teman cewek sebayaku. Karena aku yakin mereka tidak akan bisa diperlakukan semaunya seperti Mbak Ning. Kalau pun ada yang mau berhubungan sex, bagaimana kalau hamil nanti? Itulah sebabnya aku menjaga jarak terus dengan teman-teman cewek.
Tapi tahukah mereka bahwa aku sebenarnya sangat membutuhkan lawan jenis untuk menyalurkan nafsuku yang sering timbul dan sulit dikendalikan?
Keadaan seperti itu berlangsung terus sampai aku duduk di kelas 3 SMA. Untungnya aku berhasil konsentrasi sepenuhnya ke pelajaran di sekolah, sehingga rankingku tetap berada di 3 besar.
Tapi entah kenapa, pada suatu malam aku bermimpi yang terasa aneh sekali. Aneh, karena aku tak pernah berpikir sejauh itu. Tapi dalam mimpi itu aaah…aku mimpi bersetubuh dengan ibu tiriku! Padahal selama ini aku tak pernah berpikir yang bukan-bukan terhadap beliau. Aku bahkan harus berterimakasih, karena mama (demikian aku memanggil kepada ibu tiriku) memperlakukanku seperti kepada anaknya sendiri. Tidak seperti dalam dongeng-dongeng yang sering menceritakan kejamnya ibu tiri, o, tidak…ibu tiriku tidak pernah memukulku, bahkan menyentil telinga pun belum pernah.
Ibu tiriku seorang guru. Mama selalu bilang, “Kalau kepada murid aku bisa sayang, kenapa kepada anak suamiku tidak bisa sayang?”
Lagipula dari perkawinannya dengan ayahku, Mama tidak dikaruniai keturunan. Entah siapa yang bermasalah. Tapi yang jelas ia memperlakukanku sebagai anaknya sendiri. Dia sering bilang, “Buat apa aku punya anak? Kan aku sudah punya Toni.”
Lalu kenapa aku bisa bermimpi demikian aneh dan merangsangnya sehingga pagi-pagi aku terbangun dengan celana basah oleh air maniku sendiri?
Seharusnya aku mengutuk diriku sendiri. Sebagai anak yang tak tahu diri. Tapi, sungguh, mimpi itu datang tanpa diundang, bukan hasil dari lamunanku !
Celakanya, sejak mengalami mimpi itu, aku sering mencuri-curi pandang, memperhatikan gerak-gerik Mama dengan sudut mataku.
Mama memang tidak semuda Mbak Ning. Usianya sudah 30 tahun. Tapi kalau kubanding-bandingkan, Mama jauh lebih mulus. Langsing, berkulit putih bersih dan memiliki deretan gigi yang rapi. Mama seorang wanita yang cantik. Ayahku boleh berbangga memiliki istri secantik dan semuda itu.
Oke, taruhlah Mama wanita yang tercantik di dunia, tapi apa alasanku jadi sering berpikiran kotor padanya? Bukankah ia milik ayah kandungku?
Entahlah. Aku sering berusaha menindas perasaan yang bukan-bukan ini dengan mencurahkan perhatian kepada pelajaran sekolah. Apalagi kalau mengingat bahwa beberapa bulan lagi aku akan menempuh ujian.
Tapi gilanya, pikiran ini makin lama malah makin menjadi-jadi. Lalu kalau ibu tiriku tahu bahwa aku terus-terusan membayangkan tubuhnya dalam gumulanku, seperti dalam mimpi itu, apakah dia takkan marah?
Entahlah. Di masa ujian yang semakin dekat, aku malah terus-terusan mikirin tubuh ibu tiriku.
Bahkan pada suatu sore, kegilaanku datang tak terkendali. Saat itu ayahku sedang di luar Jawa untuk mengurus bisnisnya. Kudengar langkah ibu tiriku menuju kamar mandi. Lalu entah dari mana datangnya keinginan gila ini. Keinginan untuk mengintip ibu tiriku waktu mandi!
Kamar mandi itu ada dua pintu. Yang satu untuk dibuka dari kamar ortu, yang satu lagi bisa dibuka dari kamarku. Itu adalah kamar mandi keluarga. Tapi di antara kamar mandiku dengan kamar mandi ortu dibatasi oleh dinding yang tidak tertutup penuh. Dinding itu hanya setinggi 2 meter. Aku tidak tahu kenapa kamar mandi itu dibuat begitu. Tapi dasar sial, di dinding pembatas kamar mandiku dengan kamar mandi orang tuaku gak ada lubang buat mengintip. Bisa saja aku memanjat ke atas bak mandi, tapi kepalaku akan kelihatan dari sebrang sana, takut malah Mama marah nanti.
Aku jadi seperti orang linglung. Mondar-mandir di dalam kamar mandi, kemudian keluar dengan hati kecewa.
Beberapa saat kemudian ibu tiriku muncul dalam daster biru mudanya. Mengambil air minum dari dispenser, lalu membawanya ke meja kerjanya. Saat itu aku duduk di depan TV, pura-pura menonton TV. Padahal sudut mataku mengintai dia terus.
Kulihat Mama menghadapi setumpuk kertas ulangan murid-muridnya.
Aku mulai nekad. Menghampiri meja kerja ibu tiriku dan berdiri di belakang kursinya.
“Perlu bantuan, Mam?” tanyaku menawarkan jasa.
Mama menengok ke belakang, tersenyum dan menyahut, “Gak usah.Kerjaan gampang. Seperempat jam juga selesai.”
Pada saat itulah kenekadanku timbul. Kupeluk leher Mama dari belakang. Dia terkejut, menoleh ke belakang, ke arahku, “Kenapa Ton?”
“Gak kenapa-kenapa. Pengen meluk Mama aja. Boleh kan?” sahutku sambil berusaha menenangkan diri.
Anehnya Mama diam saja. Padahal tadinya aku sudah siap untuk dimarahi sekalipun.
Dan karena Mama tidak berontak, aku jadi merasa mendapat angin baik. Tanganku yang masih melingkar di lehernya, mulai turun ke bawah…memegang buah dadanya dari luar dasternya. Wow, terasa Mama tidak mengenakan beha! Terasa sekali bedanya!
“Ton…” Mama menoleh lagi ke arahku, “Kamu kok lain dari biasanya?”
Aku tidak menjawab. Malah merasa semakin dikasih hati. Kuselinapkan tangan kananku ke dalam daster Mama di bagian dadanya. Dan oh…ternyata Mama tidak berontak waktu aku memegang payudaranya yang ternyata masih sangat kencang (maklum Mama belum pernah melahirkan anak).
Mama diam saja ketika aku meremas payudaranya dengan lembut. Bahkan suhu badannya mulai menghangat. Terlebih ketika aku mulai memainkan pentil buah dadanya, dengan pengalaman yang sudah cukup banyak dari kisahku bersama Mbak Ning.
“Ton…” terdengar suara Mama tersendat.
“Iya Mam?”
“Kamu kok jadi aneh begini Ton?”
“Gak tau kenapa…belakangan ini aku mikirin Mama terus…” sahutku sambil memasukkan tangan kiriku ke arah buah dada Mama yang sebelah kiri pula. Sehingga kini kedua buah dada Mama berada di dalam genggamanku.
“Kamu anak nakal. Masa mama diginiin?”
“Sudah lama aku ingin mendapat kesempatan ini, Mam.”
“Ntar…mama pengen pipis dulu,” kata ibu tiriku sambil mengeluarkan tanganku dari dasternya, kemudian bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah ke arah toilet.
Aku jadi dag-dig-dug menantikan detik-detik mendebarkan ini.
Keluar dari toilet, Mama tidak duduk di belakang meja kerjanya lagi. Padahal aku tau dia belum menyelesaikan pekerjaannya.
Mama malah duduk di sofa panjang. Sambil memandangku dengan senyum manis. Oh, aku sudah agak berpengalaman, senyum itu bisa kuartikan “mengijinkan”.
Dan senyum itu membuatku seperti robot, menghampirinya dengan hati penuh harap dan hasrat.
Mama masih tersenyum, dengan sorot pandang yang lain dari biasanya. Apakah dia juga mengharapkanku? Mengharapkan anak muda yang sedang segar-segarnya?
Aku pun lalu duduk merapat di samping kiri ibu tiriku yang jelita itu.
“Kamu kok tiba-tiba begini…” suara Mama terdengar bergetar di pendengaranku. Mungkin dia juga sedang mengharapkan sesuatu dariku.
Aku menjawabnya dengan mengulang perbuatanku di belakang kursi kerja Mama. Melingkarkan lengan kananku di lehernya, lalu menyelusup lagi ke arah buah dadanya yang tak berbeha itu. Terjamah lagi gumpalan daging kenyal dan masih kencang itu. Buah dada Mama tidak sebesar buah dada Mbak Ning. Tapi rasanya buah dada Mama lebih kencang dan padat.
Mama diam saja. Seperti ingin tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya. Maka ketika tangan kananku masih meremas buah dada kanan Mama, tangan kiriku mulai merayapi lutut Mama….merayap ke atas, ke pahanya yang terasa licin dan hangat. Mama masih diam juga. Bahkan ketika tangan kiriku merayap terus ke arah pangkal pahanya, dia malah tersenyum sambil menatapku dengan bola-bola mata bergoyang. Aku jadi semakin berani. Dan…suatu kenyataan mendebarkan kutemukan. Ibu tiriku tidak mengenakan celana dalam, sehingga tanganku mulai menyentuh rambut lebat di selangkangan Mama. Mungkinkah diam-diam Mama sudah mengatur untuk “mempermudah” agar aku bisa langsung menyentuh kemaluannya? Apakah tadi dia hanya pura-pura pengen pipis padahal sebenarnya mau melepaskan celana dalamnya di toilet? Entahlah, yang jelas napasku semakin tak teratur. Dengan batang kemaluan yang semakin tegang.
Terlebih ketika aku sudah menyentuh bibir kemaluan Mama…oooh…Mama malah merenggangkan kedua pahanya, seolah ingin memberi keleluasaan untuk tanganku yang mulai menjelajahi bagian yang paling merangsang ini!
Maka dengan napas yang semakin sulit kuatur, aku pun mulai mengelus bibir kemaluan ibu tiriku. Terkadang kuselusupkan jari tengahku ke dalam liang memeknya yang hangat dan mulai basah.
Ah…sungguh tak kuduga bahwa aku akan mendapatkan kesempatan seperti ini.
Gilanya, disaat aku asyik memainkan memek ibu tiriku, tampaknya ia pun tidak mau berdiam pasif. Tangannya menyelinap ke balik celana trainingku. Menyelinap ke balik celana dalamku. Dan mulai memegang batang kemaluanku.
“Iih…punyamu kok besar sekali Ton?! Sudah keras pula…” Mama melotot tapi lalu tersenyum penuh arti. Lalu katanya lagi, “Kamu punya jauh lebih besar daripada punya papamu, Ton…oh iya…almarhum ibumu kan orang Arab ya?”
Aku tidak menyahut. Kata-kata senada dengan itu pernah diucapkan oleh Mbak Ning dahulu. Bahkan setahuku, batang kemaluanku ini makin membesar dan memanjang setelah aku duduk di SMA.
Dan kini batang kemaluanku yang masih tersembunyi di balik celana training dan celana dalamku, terus-terusan mendapat remasan lembut ibu tiriku, sehingga aku merasa hampir tak kuat lagi, ingin segera menyetubuhi wanita 30 tahunan berkulit kuning langsat, berperawakan tinggi semampai dan berwajah cantik itu. Aku tetap menyembunyikan rahasia masa laluku dengan Mbak Ning. Maka ketika Mama membisiki aku, “Kamu pernah begituan sama cewek?” dengan tegas kujawab, “Belum. Kalau ngocok sih pernah..mimpi bersetubuh sama Mama juga pernah, sampai paginya celanaku basah.”
“Jadi kamu pernah mimpi begituan sama mama? Pantesan…” ibu tiriku melepaskan zakarku dari genggamannya, lalu merebahkan diri sambil menyingkapkan dasternya sampai ke bagian perutnya. Sehingga mulai dari pusar perut sampai ujung kakinya terbuka jelas di mataku.
Oh, ini luar biasa bagiku! Memang aku sudah sering melihat Mbak Nining telanjang. Tapi yang sedang kuhadapi ini ibu tiriku sendiri, sehingga ia benar-benar memiliki nilai plus bagi jiwaku. Maka kunikmati pemandangan indah itu, tentang sepasang kaki yang mulus dan putih, tentang kemaluan wanita yang berbulu sangat lebat dan…ah…aku tak sabar lagi…langsung saja kuserudukkan wajahku ke bawah perut ibu tiriku. Kuciumi memek berbulu lebat itu. Tidak ada bau yang tak sedap, bahkan wangi sabun masih tertinggal, karena belum lama ia habis mandi tadi.
Seperti anak menemukan mainan, kubuka bibir kemaluan Mama, tampak merah bagian dalamnya. Mama diam saja, hanya elahan napasnya yang terdengar.
Aku mulai menjilati bibir kemaluan yang seolah menantangku ini. Lalu kujilati juga kelentitnya, sehingga ibu tiriku mulai menggeliat, “Ton…kamu kok sudah pandai main jilat segala? Sering nonton film porno ya?”
“Iya Mam,” sahutku sambil menghentikan jilatanku sesaat, lalu kujilati lagi memek yang belum pernah melahirkan anak itu.
“Pantesan…iiih…enak sekali Ton…ta…tapi mending di kamar yuk. Takut mendadak ada tamu. Lampu-lampu matiin aja semua, biar disangka kita sudah pada tidur, biar jangan ada gangguan.” Ibu tiriku bangkit dari sofa.
“Iya Mam,” aku mengangguk. Lalu semua lampu di ruang depan kumatikan. Demikian juga lampu di pavilyun. Lalu bergegas menuju kamar ibu tiriku.
Kulihat Mama sudah bertelanjang bulat sambil memeluk bantal guling di atas tempat tidurnya. Ia menyambutku dengan senyum ketika aku menghampiri tempat tidur dan melompat ke atasnya…menerkam tubuh bugil ibu tiriku dengan birahi meluap-luap.
“Buka dulu dong baju dan celanamu, sayang,” bisik Mama sambil mencolek hidungku. Oh, inilah perlakuan ibu tiriku yang terasa baru. Karena biasanya ia jauh-jauh saja dariku. Paling hebat cuma memegang pergelangan tanganku.
Aku tak mau buang-buang waktu lagi. Kutanggalkan semua yang melekat di tubuhku. Kemudian menerkam ibu tiriku lagi dalam keadaan sudah sama-sama telanjang bulat.
Pada satu saat Mama memegang batang kemaluanku sambil berkata lirih, “Iiih…kontolmu jauh lebih panjang gede daripada punya ayahmu, Ton…”
Aku cuma tersenyum. Ada perasaan bangga mendengar pernyataan ibu tiriku itu. Lalu dengan sepuasnya kuelus-elus memek ibu tiriku, terkadang kucolok-colok liangnya, sampai akhirnya Mama berbisik, “Ayo masukkan aja, Ton…mama juga jadi kepengen nih…”
Dengan berpura-pura bodoh kuminta agar Mama memegang batang kemaluanku dan mengarahkan ke tujuannya. Mama memang memegang batang kemaluanku, lalu mencolek-colekkan moncongnya ke antara sepasang bibir kemaluannya. Lalu ia memberi isyarat agar aku mendesakkan batang kemaluanku….blesssssss….melesak masuk ke dalam liang memek Mama yasng sudah basah itu…disusul dengan pelukan Mama di leherku, diiringi rintihan histerisnya, “Ooooh…sudah masuk sayang….iiihhh…kontolmu kok gede sekali Ton…”
“Terus gimanain?” tanyaku berpura-pura bodoh terus. Seolah-olah baru sekali itulah aku memasukkan batang kemaluanku ke dalam vagina wanita.
Ketika batang kemaluanku melesak ke dalam liang kemaluan ibu tiriku, ada nilai plus yang aku pendam di dalam hati. Ini seakan-akan suatu “prestasi yang luar biasa”. Suatu kejutan yang tidak terduga. Karena batang kemaluanku sedang meluncur masuk ke dalam liang kemaluan seorang wanita yang tadinya sangat kusegani, sebagai pengganti ibu kandungku yang telah tiada. Dan mimpiku telah menjadi kenyataan. Bahwa kini batang kemaluanku sudah mulai kugerak-gerakkan maju mundur seperti pompa manual.
Pada waktu aku mulai mengentotnya, Mama tidak mau berpandangan mata denganku. Setiap aku berusaha menatap matanya dari jarakl yang hampir tak terpisahkan itu, selalu saja Mama menarik kepalaku, agar hanya bertemu pipi dengan pipi saja. Sehingga aku hanya bisa memandang bantal.
Mungkin Mama malu pada dirinya sendiri. mungkin juga untuk mengusir perasaan bersalah, karena telah mengijinkan aku, anak tirinya, mulai menyetubuhinya laksana suami istri.
Tapi, tahukah Mama bahwa aku mulai teringat pada seseorang yang telah mengajariku bersetubuh dan telah merenggut kebujanganku 2 tahun yang lalu?
Oh, wajah wanita itu terkilas-kilas terus di pelupuk mataku. Membuatku jadi ingat semuanya….
Tapi terawanganku buyar seketika, karena Mama membisiki telingaku, “Kok diem? Enjot lagi seperti tadi…”
Aku terhenyak, tadi aku malah melamun. Lagi ngentot kok malah ngelamun.
Aku pun lalu memompakan lagi batang kemaluanku, bergeser-geser maju munduir di dalam liang kemaluan Mama. Elahan-elahan napas Mama pun mulai merajalela. Mendesah-desah seperti habis makan kepedasan.
Dalam keadaan seperti ini, Mama tetap tidak mau saling pandang denganku. Dia tetap memeluk kepalaku agar cuma saling tempelin pipi. Walaupun masih remaja, saat itu aku mengerti apa sebabnya. Mungkin Mama merasa bersalah, karena membiarkan aku menyetubuhinya.
Dan kalau kubanding-bandingkan dengan Mbak Ning, bersetubuh dengan ibu tiriku ini mendatangkan kesan tersendiri. Ada perasaan aneh menjalar di dalam hatiku. Tapi yang jelas, memek ibu tiriku ini enak sekali. Lebih sempit daripada memek Mbak Ning.
Desahan-desahan Mama pun semakin merajalela, “Ton…oooh….enjot terus Ton…ini enak sekali, sayang…oooh…kamu nakal tapi enak sekali….”
Meski sedang asyik-asyiknya ngentot Mama, aku masih sempat membisiki ibu tiriku, “Mimpiku jadi kenyataan Mam. Ternyata Mama lebih enak daripada dalam mimpiku…”
“Aduuh Ton…Tooon…adudududh…mama sudah mau keluar Ton…percepat enjotannya Ton…dudududuuuh…..Toooooniiiii……..aaaahhhhhhhhhhhhh…….”
Mama berkelojotan seperti ayam sekarat. Pelukannya begitu kencang, seperti mau meremukkan tubuhku. Lalu ia mengejang sambil melepaskan napas panjang….dan memeknya mulai terasa banjir….terasa ada yang berkejut-kejut di dalam liang surgawinya. Tapi aku pun tak bisa bertahan lama. Beberapa menit setelah Mama mencapai orgasmenya, kutekankan batang kemaluanku sedalam-dalamnya. Lalu terasa air maniku menyemprot-nyemprot di dalam liang memek Mama.
“Ooooh….air manimu banyak sekali, sayang…sampai meluap ke luar,” bisik Mama sambil mencium pipiku.
Aku pun mencabut batang kemaluanku yang mulai melemas, sementara Mama turun dariu tempat tidur, lalu terdengar bunyi kecipak-kecipak air, mungkin sedang membersihkan kemaluannya yang berlepotan dengan air maniku.
Mama menghampiriku lagi dengan tubuh dibelit handuk.
“Gimana? Sudah puas sekarang?” tanya Mama sambil duduk di sampingku.
“Puas sekali,” sahutku sambil tersenyum, “Tapi kalau Papa sudah pulang, aku susah dapetinnya lagi ya Mam.”
“Iya, harus hati-hati, Ton. Di depan ayahmu jangan memperlihatkan sikap lain padaku. Seperti biasa saja. Pokoknya harus serapi mungkin.”
Aku cuma mengangguk, sambil memperhatikan wajah ibu tiriku. Sorot pandangannya memang jadi lain dari biasanya. Seperti mengandung arti yang mendalam. Senyumnya pun jadi lain. Mungkin itulah senyum seorang wanita yang telah mencapai kepuasan seksual.
Ketika aku mau mengenakan celana dalam, Mama memegang tanganku dan berkata dengan nada agak centil, “Kenapa udah mau pakai celana lagi? Emang gak mau lagi?”
“Mau…tapi aku lapar, Mam. Kita makan dulu gimana?”
“Kalau perut penuh, nanti bisa sembelit,” Mama memelukku dengan hangatnya, “Mending kita bikin ronde kedua dulu yuk. Nanti kalau udahan, baru kita makan malam.”
Aku mengangguk dengan senyum. Celana dalam tak jadi kupakai, lalu kulemparkan begitu saja ke lantai.
Mama pun membuka lilitan handuknya, sehingga tubuhnya bugil lagi di depan mataku. Sejenak kuamati tubuh ibu tiriku yang masih muda itu. Mulus sekali. Buah dadanya memang tidak semontok buah dada Mbak Ning. Tapi kulit Mama mulus dan bersih. Tidak ada noda setitik pun di tubuhnya. Hebat juga ayahku bisa mendapatkan wanita secantik dan semulus ini. Padahal saat itu usia ayahku sudah di atas 50 tahun, sementara ibu tiriku 20 tahun lebih muda darinya.
Mama langsung menelentang, seperti mengharapkan terkamanku. Dan aku memang menerkamnya. Meremas buah dadanya yang masih kencang dan bahkan mengemut putingnya seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya. Mama tersenyum-senyum sambil mengelus rambutku dengan lembut.
Batang kemaluanku pun mulai menegang lagi. Mama tahu itu, karena tangannya terus-terusan memegang batang kemaluanku, terkadang meremasnya dengan lembut. Lalu kudengar suara ibu tiriku, “Ayo…masukkan lagi Ton….”
“Katanya perempuan bisa main di atas, Mam,” kataku.
“Nggak ah,” Mama menggeleng sambil merenggangkan kakinya, “Kata orang, kalau perempuan suka main di atas, setelah tua perutnya suka buncit.”
“Oya?” kataku sambil membiarkan batang kemaluanku diraih oleh Mama dan diarah-arahkan ke sasaran yang tepat di antara kedua pangkal pahanya.
Mama lalu memberi isyarat agar aku mendorong lagi batang kemaluanku. Kuikuti isyaratnya itu. Kudorong batang kemaluanku sekuat mungkin, membuat Mama meringis, “Oooh…sedikit-sedikit, Ton…jangan disekaliin…sakit…kontol kamu gede sekali sih….nah…gitu…kocok-kocok dulu….iya….iya….oooh…….Tooon…enak Ton…”
Wow, sulit melukiskannya dengan kata-kata, betapa nikmatnya waktu batang kemaluanku sudah mulai dienjot-enjot dalam jepitan liang kemaluan ibu tiriku yang cantik dan mulus itu.
Tanpa meghentikan ayunan batang kemaluanku, iseng kubisiki Mama, “Sama papa enakan mana Mam?”
“Jauh Sayang. Kamu jauh lebih enak…soalnya punyamu keras sekali…gede sekali lagi…aaah….aku bisa ketagihan nanti Ton….”
Dalam persetubuhan yang kedua ini, Mama tidak lagi menyembunyikan wajahnya. Mama membiarkan aku menatap wajahnya yang hampir tiada jarak. Bahkan ketika kucium bibirnya, ia menyambut dengan jepitan bibirnya yang hangat. Lalu kami pun mulai saling lumat.
Ketika bibirku lepas dari lumatan Mama, terdengar lagi desahan-desahan histeris ibu tiriku, “Toon….oooh…enak sekali Ton….ooh…kayaknya mama sudah mau keluar…enaknya dibarengin keluarnya Ton….”
“Gimana caranya?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Percepat entotannya. Biar kita bareng-bareng keluarnya. Ayo Ton…ayo sayang….iiih…iiih….ini enak sekali sayang….”
Lalu kuikuti keinginan ibu tiriku. Kupercepat gerakan batang kemaluanku, maju mundur maju mundur maju mundur…….dan…ooh…aku berhasil mengikuti keinginan Mama. Kutancap batang kemaluanku sekuat mungkin, sampai terbenam sepenuhnya…pada saat itu pula Mama mengejang sambil mendekapku erat sekali….
“Oooh Toooniiii…..” rintih Mama di puncak orgasmenya. Pada detik yang sama aku pun mendekap Mama sekencang mungkin, karena batang kemaluanku tengah menyemprot-nyemprotkan air mani di dalam liang memek ibu tiriku!
Kami saling dekap sekencang-kencangnya, seperti mau saling remukkan tubuh. Kemudian kami terkapar di alam kepuasan yang tiada taranya.
“Kontol kamu terlalu panjang gede, Ton,” bisik Mama setelah aku mencabut batang kemaluanku, “Memek mama seperti mau jebol rasanya. Oooh…belum pernah mama merasakan bersetubuh yang senikmat tadi…”
Aku cuma tersenyum dengan perasaan bangga. Kemudian mengikuti langkah ibu tiriku ke dalam kamar mandi. Sama-sama mencuci kemaluan kami. Kemudian mengenakan pakaian kembali. Dan sama-sama melangkah ke ruang makan.
“Mau dibikinin nasi goreng?” tanya Mama sambil melingkarkan lengannya di leherku, dengan sikap yang mesra sekali.
“Boleh, kalau Mama gak capek sih,” sahutku sambil tersenyum.
Mama mencium bibirku dengan mesra, membuat hatiku berdenyut. Karena malam ini sangat lain dari biasanya.
“Kuat berapa kali lagi malam ini?” tanya Mama dengan lengan tetap melingkari leherku. Dengan tatapan yang bergoyang.
“Nggak tau Mam. Biasanya kalau cowok sebaya aku kuat berapa kali?”
“Empat atau lima kali juga bisa. Tapi mama pasti kepayahan. Mama kan bukan remaja lagi. Satu kali lagi aja ya.”
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian Mama melepaskan rangkulannya dan melangkah ke dapur.
Waktu Mama sedang membuatkan nasi goreng untukku, lagi-lagi wajah wanita itu terkilas dalam ingatanku. Wajah Mbak Ning…aaah…semuanya masih tergambar dengan jelas di dalam ingatanku.

BERSAMBUNG

Pengirim: Lea
lea@post.com

Kata kunci yang merujuk ke cerita seks ini:

http://www ceritaseksonline com/-desahan berjilbab mainin vagina-Daster tante mama ibu-dada dan paha mamaku-Kubuka baju mamaku diam aja-aku cium memek mama-mulus dada dan paha mamaku-Meremas payudara cewek berjilbab cerita sex-http://www ceritaseksonline com/seks-umum/kisah-istana-birahi/birahi mbak nining-Sex birahi mama sama anak-Istriku membuka memeknya didepan kelas-Jangan entot saya berjilbab nanti ketahuan suami saya-persetubuhan mama-kisah memek mamaku-ngesex bareng ibu tiri-ngentot sama ibu muda yang lagi menyusui-main sex di ruang tamu saat suamiku tertidur-mamaku birahiku-Mamamulus com-Memek dada paha mama-memekku dienjot-Mama mau entot-hot dan binalnya mama dan keluargaku dalam pengalaman nyata-Entot istri orang gila-gilaan-Birahi mbak nining-Buah dada anak tiriku-Celana dalam mama-Cerita bokep Kontol dan memek entot entotan ditoilet-cerita mengintip celana dalam ibu guru-cerita menyetubuhi anak sekolah-Cerita ngetot pipis bareng-Cerita sek dibalik celana mama-Cerita sex mama di wc-Cerita suka pakai celana dalam wanita-crita-cerita orang dewasa-Crta sex ngentot ibu menyusui-dada dan paha mulus mamaku-dastermama com-desah puncak birahi-desahan mama-Birahi mama-


MAU BERLANGGANAN CERITA SEKS KAMI MELALUI EMAIL ANDA?

Masukkan Alamat Emailmu di sini:


Advertisement

23 komentar

  1. pengen tau rasa strobery,
    coba dunk,
    tlpn or sms ke no 08984287828
    khusus cewek ya..

  2. Gina says:

    Ach,memek gw pngn di tusuk nih.gw juga pngn di entot.langsung aja dtg ke jurusan sejarah undip y?atau 085640154871 atau add fb gw aja di ghie driana.gw emang cewek berjilbab tp gw seneng bgt ngentot.dijamin gratis,puas!gw asli cepu,tinggal di semarang.kuliah di jurusan sejarah undip.mw ngentot di kampus jg boleh.

  3. ARDY NATA says:

    bagi cwek and ibu r.tangga ada yg mau dientot,dijamin puas dan GRATIS ,gue jilat habis,hub.021.37109194

  4. gina yang asli.... says:

    maaf sekali lagi,, yang nulis di atas tentang gina bukanlah gina yang asli,,, sya gina yang asli tidak pernah menyebarluaskan seperti itu,, no hp serta keterangan yang ad di atas adalah palsu.. terimasih atas perhatiannya. moga yang nulis tentang ghina diatas adalah ornfg yg sirik dengan sya….

  5. Pujangga says:

    Critanya kisah nyata atau karangan??
    Seru boy crita low
    oya bagi cewe2 yg minat phone sex di no 085277189661
    gw cowo 23tahun
    oya yg di aceh takengon yg pgen *ge***t hub z no diatas.

  6. lanun says:

    satu lagi penzinaan… akan datang bala dari Tuhan…. amin

  7. Ryo says:

    buatr cwe” yang seneng phone sex………….,

    Hub…
    085789831898

  8. bapak Gina says:

    sudahlah jangan berantem….
    saya mewakili gina minta maaf kepada warga cepu.bersikaplah dewasa,gina ganti nomor dan ganti facebook.lalu banyaklah berdzikir sama allah.mungkin kamu itu terlalu sombong,terlalu jahat sama orang jadi mereka pada dendam sama kamu.tidaklah mungkin jika kamu tidak jahat,tapi orang lain jahat sama kamu.kamu juga harus minta maaf sama semua orang.ini buka cobaan,tapi ini mungkin balasan atas perbuatan kamu.mungkin ini karma buat kamu.
    dan buat semuanya janganlah mengganggu kehidupan gina.biarlah dia menyadari semua kekejaman dia selama ini.
    kita harus saling memaafkan.

  9. lanang says:

    manteeeeeep crooooot duh bkin ngaceng kontol gw ni hmmmmmmmm lanjut

  10. kinkzkasep says:

    emang gina tuh sapa sih uing jadi penasaran sama dy……….
    bwt cewe” jakarta or tangerang yang mw nyobain or nyalurin hasrat sexsual boleh call or sms ke no ne…..02196610867 khusus cewek coz w masih normal….. : D

  11. gunawan says:

    to gina…. sabar ya…
    for lady…. call me
    gunawan jakarta
    081385512317
    081514357257

  12. Dega says:

    Bagi penggemar seks phone khusus cwe n’ tante” jga bsa. .
    N0 gw 08972888005. .
    Msh ucup. .
    Hehe

  13. Yani says:

    Mana crta yg sm mb ningnya?

  14. rey says:

    sabar ya Gin………
    Ce or tante yg mau sex fr fun….call me ya, 081931248972

  15. Ivan says:

    Gna kasian kamu. Tbh y!

  16. Buat cwe dan tante2 bandung says:

    Aku cwo bdg, buat cwe2 dan tante2 kesepian yg pengen kepuasan hub 081220342243
    085659647817

  17. rics ! says:

    pengen ngrasain tante” ! hanya tante 085645119700 !

  18. jea says:

    wes embuh, gina parah. ceritanya hot banget, q pengen……

  19. Kebho... says:

    Gw juga pernah tuh sama ibu tirinya tmen gw…
    Cewe or tante yang mao enak…
    Call… 0856 95 78 74 70

  20. Vie says:

    Mau dooong dientotin!

  21. zirana says:

    diana
    add aku ya?
    zirana80@yahoo.co.id
    aku bayar 1jt

  22. Rajawali says:

    Banyak crita ttg sex yg d lebih2kan, pdhl tdk stiap wnt dlm sex bth penis besar & panj tp bgmn bs saling memuaskan

Berikan komentar

Switch to our mobile site